image05 image06 image07

Jumat, 20 Juni 2014

Tagged under: ,

Layar Klise

By Chici Ayu XI Akselerasi

Namaku Khaahani Chatterjee biasanya dipanggil Khaani, sepasang bola mata bening kebiruan membuat beberapa orang terhanyut pancar binar kesejukkan. Aku memiliki kelainan mata permanen turunan biologis dari ayah. Hasil rongsen menunjukkan kornea mata bergeser jauh dari tempat semestinya, kemungkinan terburuk bisa mengakibatkan kebutaan. Berbagai macam cara pengobatan dan alternatif telah ditempuh, tapi tak satupun dapat menyembuhkan. Pemeriksaan pertama usiaku menginjak tujuh tahun, dokter spesialis memvonis mataku minus lima. Sungguh di luar batas gangguan mata normal di usia yang masih sangat belia. Ketika  aku duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar, sebuah kecelakaan kecil saat bermain gobak sodor. Tak sengaja salah satu temanku menjegal kakiku sampai aku terjatuh. Kacamata terpental dan ppyyyarrrr... pecah berkeping – keping. Kucoba untuk bangkit lalu berjalan  dengan meraba – raba, seorang bocah laki – laki menuntunku sampai ke ruang kelas. Seketika teman – teman bersorak dan tak hentinya mengejek aku dan bocah itu layaknya sepasang kekasih. Seminggu kemudian bocah itu pindah sekolah tanpa aku mengetahui namanya.
Seiring berjalannya waktu semakin bertambah ketebalan kacamata semakin kabur pula pengeliatanku. Menjelang tahun ajaran baru, terjadi percecokan hebat antara ayah dan bunda. Ayah tidak setuju dengan sikap bunda yang keras kepala menuntutku melanjutkan ke sekolah luar biasa, tetapi ayah bersikeras memintaku melanjutkan ke sekolah umum selayaknya anak normal biasanya. Tahun pertamaku di Sekolah Menengah Pertama sangat buruk. Untuk kali ini bunda menyuruhku home schooling meskipun dengan biaya jauh lebih mahal. Aku merasa terisolasi dan tertekan di rumah sendiri. Kadang kala rindu pada kebebasan dunia luar juga teman – teman datang melanda. Di sisi lain lewat home schooling aku dikenalkan dengan huruf braille. Dengan huruf braille aku lebih mudah membaca, kesulitan membaca buku berhuruf balok menyebabkan prestasiku selalu buruk. Dalam waktu beberapa bulan perkembanganku dalam bidang akademik meningkat secara significant. Guru privat menyarankan kepada bunda agar aku kembali menempuh pendidikan di sekolah umum, dengan berbagai pertimbangan akhirnya bunda menyetujuinya. Tahun terakhir di SMP, aku bisa membuktikan bahwa dengan segala keterbatasanku tak selayaknya aku dipandang sebelah mata.
Awal masa orientasi SMA aku masih kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Banyak teman – teman sulit menerima kekuranganku. Sering kali hujaman anak buta merenyuhkan batinku. Meskipun tidak semua orang membenciku, namun ada saja gengster yang gemar berbuat usil kepadaku.
“Mingggiiir...... minggiirr anak buta mau lewat,” ledek ketua gengster di koridor.
Aku hanya menunduk kerepotan membawa buku sambil gerayahan menuruni tangga. Tak sengaja aku menabrak pundaknya, seketika buku yang ku bawa jatuh berserakan. Gengster menjambak rambutku dan membawaku pada titik three point lapangan basket. Salah satu gengster merampas kacamataku.
“Aku tantang kamu! Masukkan bola basket satu kali saja dalam tiga kali kesempatan. Kalau kau gagal, kupastikan kau tak akan pernah bisa pulang,” ancam bengis ketua gengster.
Tak pernah terbayang aku bisa menerima tantangan itu, jangankan untuk memasukkan bola basket ke ring, untuk berjalan saja aku masih kerepotan. Banyak siswa bersorak – sorak pinggiran lapangan basket. Mataku tak mampu untuk menatap letak ring, jelas kesempatan pertama dan kedua aku gagal memasukkan bola. Untuk kesempatan ketiga kalinya seorang lelaki tiba – tiba berteriak memecah hiruk pikuk.
“Jika kau tak dapat melihat, gunakan mata batinmu” teriaknya lantang
Kupejamkan bola mata, kucoba melihat dengan mata batinku. Untuk lemparan terakhir ini aku berhasil memasukkan bola ke ring. Aku berjalan gerayahan untuk meminta kacamataku kembali, sesuai dengan kesepaktan gengster mengembalikan kacamataku. Ketika aku beranjak meninggalkan mereka terdengar celotehan,
“Hei buta urusan kita belum selesai,” teriaknya sambil melempar bola basket ke wajahku.
Ppyyyaarr.... untuk yang kedua kalinya kacamataku pecah berkeping – keping. Gengster dan teman – teman meninggalkanku sendiri di tengah lapangan. Seorang lelaki datang membantuku. Ia menuntunku lalu menunjuk sebuah bangku dibawah rimbun pohon cemara.
“Bukankah ini buku braille, untuk apa buku ini ?” tanyanya sambil meraba bukuku
“Hhhmm... mataku cacat, pengelihatanku makin hari makin kabur, guru privatku pertama kali mengenalkan huruf braile saat aku duduk di bangku SMP, seringkali aku pusing membaca huruf balok, buku braile ini sebagai pembantu,” jelasku perlahan.
“Betapa sejuknya matamu, bolehkah aku tau namamu?” tanyanya hanyut dalam tatapan.
“Khaahani, siapakah kamu? Kenapa kau tak malu menolongku?” tanyaku balik
“Rana Pudja, aku teringat pada gadis kecil delapan tahun lalu,” jawabnya singkat.
“Apa yang membuatmu teringat dengan gadis masa kecilmu?” tanyaku menegas.
“Sepasang bola mata kesejukkan, matamu mengingatkanku padanya,” tuturnya penuh keyakinan
    Beberapa deskripsi Rana tentang gadis itu mengingatkanku pada seorang bocah SD yang seketika hilang bagaikan ditelan laut biru.
    “Kaukah bocah itu Rana?” tanyanku menyibakkan tanda tanya.
    “Seorang gadis terjatuh pada permainan gobak sodor, menurutmu?” lanjut gumamnya.
    “Kenapa kau hilang bagai angin laut tanpa aku sempat berterimakasih padamu?” ungkapku kesal.
“Sejauh angin berkelana akan kembali kelaut jua,” senyumnya dengan kedua lesung di bibir. Sejenak keheningan lalu di pecahnya dengan celetuk ringan  “Gelap terang dunia ini layaknya sebuah klise potret kamera lomo.” ungkapnya dengan tatapan hilang arah.
“Puji syukur... kaburnya pengeliatanku setidaknya aku masih menikmati kerucut warna cahaya, “ jawabku menghibur ”Adakah gerangan kau yang terlihat normal berkata hal serupa?” tanyaku balik umpan.
    “Seterang mataku memandang terasa hampa jika tak tampakkan warna, aku buta warna total Khaani...” ucapnya mengagetkan. 
Perlahan aku menelaah setiap kata ucapannya,“Mungkin memang kita ditakdirkan cacat netra, namun mata hati tak akan pernah buta,” jelasku sederhana.
    Semenjak pertemuan itu, Rana melindungiku dari ancaman gangster. Hadirnya singkap kegelapan terangkan jalan setapak. Dengan keterbatasanku aku membantunya menerawang warna awan. Bersamanya gambarkan anggun bias pelangi diguyur rintik hujan, tak lupa abadikan setiap kenangan meski kenyataannya hanya tampak gelap terang. Erat gandeng kebersamaan coba menepis buram hampa kehidupan.

0 komentar:

Posting Komentar